Archive | August, 2010

Manglingi di Hari Bahagia

31 Aug

Lokasi acara lamaran dan pesta pernikahan yang telah ditetapkan di Kendari, kampung halaman saya, selain memunculkan masalah dalam hal pemilihan fotografer, juga sukses bikin saya pusing mikirin urusan make-up. Ya namanya hari istimewa (yang insya Allah sekali seumur hidup) ya… wajarlah kalo kita pengen terlihat cantik dan manglingi. Untuk itu, pemilihan make-up artist (MUA) atau dukun manten sangat-sangat vital. Di Jakarta, pilihannya tidak terbatas. Di pulau jawa pun, ada banyak yang terkenal piawai memunculkan aura kecantikan pengantin di hari bahagianya.

Tapi… saya tidak begitu yakin dengan source yang tersedia di Kendari. Takut nantinya saya terlihat menor atau jadi ‘orang lain’ seperti pengantin yang pernah saya lihat di masa kecil dulu. Jangan-jangan, si kk kabur lagi, wkt kita dipertemukan setelah ijab kabul (Dalam adat saya, ijab kabul dilakukan calon suami tanpa calon istri di sampingnya. Calon istri diumpetin dulu di kamar. Setelah ijab kabul, baru cami yang sudah jadi ‘suami’ boleh ngeliat istrinya).

Rencananya adalah membawa MUA/dukun manten ke kota kelahiran saya. Sama seperti fotografer /videografer. Which is cost me a bunch of money. Have to admit that money is still my biggest issue here.. hiks! Sementara budget masih dalam tahap penyusunan, boleh dong ya nyari-nyari info..?

Continue reading

Kainku sayang, kainku malang…

30 Aug

Kalau dari hasil observasi langsung dan browsing, sepertinya persiapan lamaran itu tidak terlalu ribet. Biasanya sih, capeng males pusing-pusing mikirin urusan lamaran karena mau fokus ke persiapan pernikahan. Umm… itu capeng lain. Apa yang saya rasakan kok berbeda ya? Nggak usah jauh-jauh, untuk urusan bikin kebaya saja, rasanya duh.. pusing tujuh keliling.

Setelah ngubungin Ayong buat bikin kebaya, saya nyari-nyari informasi tempat beli kain yang paling direkomendasiin di Jakarta. Beberapa yang paling menyentuh jiwa adalah:

Continue reading

Bikin Kebaya Lamaran (Thanks to Ayong)

23 Aug

Setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya mutusin untuk jahit kebaya lamaran di Ayong saja. Pertimbangan awalnya sih karena harganya yang sesuai budget . Tertarik make jasa Ayong karena baca rekomendasi dan liat kebaya Nita yang cantik banget di sini (Note: Harga jait kebaya plus payet plus bustier nggak seperti yang tercantum di blog Nita. Kata Ayong, mungkin Nitanya salah nulis 🙂 tapi menurut saya sih, masih sangat terjangkaulah..). Pertama kali nelpon Ayong, saya udah sreg. Soalnya orangnya ramah dan ngedengerin kita banget. Setelah beberapa kali janjian dan batal ketemuan, karena kesibukan saya, juga karena Ayong juga sempet ke luar kota, akhirnya 2 minggu lalu berhasil juga ketemu langsung.

Seminggu sebelumnya, saya udah beli kain dulu di De Moda D’Best Fatmawati. Besoknya, ditemani Nita, adik saya dan Si Kk, akhirnya kita menuju Pondok Pinang. Jadi, ceritanya Ayong itu penjahit di Sanggar Reksi. Selama ini, dia nyamperin langsung customer di rumah. Tapi berhubung lagi sibuk-sibuknya, jadi sekarang udah nggak bisa lagi. Lagian, jarak antara tempat tinggal saya di Kuningan, lumayan jauh dari Pondok Pinang.

Continue reading

Belanja Seserahan (Part 1)

22 Aug

Lagi ada diskon di City Walk dari PT. Mitra Adi Perkasa. Mulai dari tanggal 11 sampai 31 Agustus 2010. Sepatu dan tas bermerek Nine West dan Steve Madden. Nggak tanggung-tanggung, menurut banner di halaman depan mall, katanya up to 90%! Langsung deh, ngambil kesempatan emas ini untuk berbelanja seserahan. Alhamdulillah udah dapat THR akhir weekend lalu. Jadi bisa belanja (Ntar reimburse ke si kk, hihihi..).

Diskonnya ada di lantai 2, nggak pake plang atau nama counter apa-apa. Tapi dari luar, keliatan jelas kalau di situlah tempatnya. Bertumpuk-tumpuk kardus belogo Nine West dan Steve Madden memenuhi ruangan tanpa interior tersebut. Nyari-nyari tulisan diskon 90% nggak ada. Paling banter 70%. Tapi lumayan bangedds loh. Modelnya bagus-bagus dan masih up to date. Beberapa memang ada cacatnya. Tapi banyak juga yang mulus.

Continue reading

Beyond Solitaire Ring

22 Aug

Sepulang dari Soulmate untuk memesan cincin pertunangan / perkawinan, saya masih saja ragu apakah model yang saya dan kk pesan itu sudah cukup oke. Saya bolak-balik browsing lagi, nyari gambar-gambar cincin berwana rose gold dan menyadari bahwa warna itu lebih cocok kalau modelnya plain glossy saja. Nggak usah pake dove sama sekali. Cuma Nita, adik kedua saya mengingatkan kalau yang namanya cincin kawin itu harusnya bermodel sama. Yah paling enggak, adalah kesamaannya. Namanya juga cincin pasangan. Sampai dini hari, saya masih terjaga. Tapi akhirnya tertidur juga sambil kebayang-bayang si cincin bulat polos warna emas ke-merahjambu-an itu.

Esok paginya, ngecek hape, eh ada 2 SMS (dikirim ke dua HP) berbunyi sama dari si kk:
“Setelah saya renungkan, lebih baik cincin kawin itu kamu pilih yang lebih bagus aja. Telpon soulmate untuk pilih model lain. Jangan khawatir soal harga. Takutnya, model tadi terlalu sederhana buat kamu.”

Continue reading

DIM (Do-It-My-Self) Invitation

20 Aug

Inspirasi awal saya, datang dari situs ini. Sejak ngeliat design berupa ‘couple silhouette’ yang ada di situ, saya langsung netapin hati akan jadiin siluet sebagai tema undangan lamaran saya. Mungkin karena selera saya yang suka segala sesuatu yang ‘clean’ dan ‘simple’, pengennya layout dan warnanya juga minimalis. Apalagi, tentu saja, harganya (harusnya sih) lebih murah karena nggak pake banyak warna. Nggak perlu laser cutting segala pula.

Sejak memutuskan untuk mendesign sendiri undangannya, saya sudah menghubungi vendor percetakan tempat saya biasa keperluan kantor. Marketing dan kepala cabangnya kan udah kenal banget karena saya sering nongkrong bareng di kantor mereka nungguin hasil kerjaan selesai dicetak. Jadi, waktu saya cerita kalau mau cetak undangan, mereka bersedia ngasih harga spesial untuk saya. Alhamdulillah…

Continue reading

1 littre of tears

20 Aug

Awalnya, acara lamarannya mau dibuat sederhana saja. Hanya makan-makan biasa dengan keluarga, kerabat dan teman-teman dekat saja. Begitulah kesepakatan saya dan mama. Sampai kemudian mama meminta saya untuk mencari undangan untuk acara tsb. Dalam pikiran saya sih, namanya acara makan-makan, nggak perlulah pake undangan segala. Tapi kata mama, nggak sopan kalau nggak pake undangan. Apalagi, akan ada sedikit ritual adat (yang sebenernya nggak terlalu ribet, cuma seperti acara berbalas pantun dalam bahasa daerah). Cuma ya… keluarga/kerabat dan teman dekat mama papa itu jumlahnya 300 orang dong! Temen saya aja, acara kawinannya ngundang jumlah yang sama. Feeling-feeling bakalan bergeser nih konsep ‘makan-makan biasa’.

Untungnya mama setuju untuk nggak terlalu ngabisin duit untuk beragam keperluan acara. Ketika saya nawarin untuk bikin design dan cetak sendiri undangannya di vendor kantor saya (yang biasa ngasih harga murah) pun, mama ngedukung. Saya pun minta beliau untuk menyusun daftar undangan, syukur-syukur kalau ada yang bisa dikurangin. Alhamdulillah, jumlahnya pun berkurang. Dari 150 menjadi 100 undangan saja.

Continue reading

The roller coaster

20 Aug

i feel alone.

doing things. prepare for the day.

i’m the one who want it to be perfect. the only one.

it’s exciting at first. but then exhausting.

i become so tired i fell asleep last night with tons magazines on my bed and laptop on my lap.

i think i have tried my best. Still, it’s not enough.

maybe all we have to do is looking for penghulu and one witness. then asking my father to be my wali.

that’s it. we’ll be pronounced as husband and wife afterward.

but my father won’t agree for sure.

as i’m his eldest child. and this is his very first time.

i want to make him happy. just exactly like i want to be.

maybe, i just have to be more patient.

it’s a part of the journey after all. there we will find some high and also low points. like in the roller coaster.

at the end of day, i’ll look back and smile. perhaps even laugh at it.

everything will be okay. all is well. all is weellll…, isn’t it K?

Calm,

C

Say Cheese…!

18 Aug

Persiapan kebutuhan perkawinan itu ngerepotin. Itu pasti. Buat lokasinya jauh dari domisili capeng saat ini, maka keribetannya pun menjadi berkali-kali lipat. Gimana cara behubungan dan koordinasi dengan vendor coba? Eits! sebentar… sebelumnya, pilih dulu vendornya yang mana. Yang domisili di sana atau di sini?

Kendari, kota kelahiran yang saya cintai itu, sudah ditetapkan menjadi tempat pelaksanaan acara lamaran, akad nikah dan resepsi pertama. Sayangnya, kecuali catering, belum begitu banyak vendor perkawinan di sana. Setidaknya, yang bisa memenuhi impian saya. Yah, bisa dibayanginlah kira-kira kota kecil, di pelosok timur Indonesia seperti apa perkembangannya (bukan meremehkan, tapi begitulah fakta yang ada 😦 ). Sebenernya, saya sudah menghapus impian masa kecil saya mengenai Wedding garden party yang kecil, yang hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat dan resepsinya hanya berupa breakfast atau brunch sama-sama. Tapi ada satu hal yang sulit buat saya hapus; saya ingin ada kenang-kenangan pesta perkawinan yang ‘bercerita dalam’ melalui gambar diam atau bergerak. Ya! nggak apa-apa deh yang lainnya yang sesuai dengan harapan. Asalkan nantinya, punya album foto dan rekaman video yang menyentuh.

Continue reading

Akhirnya ketemu juga…

17 Aug

Setelah tertunda berkali-kali, akhirnya minggu kemarin ke Soulmate Ring juga. Alhamdulillah…

Seumur-umur, saya belum pernah ke daerah Kelapa Gading (Apaa???), apalagi ke Mal Artha Gading. Begitupula si kk. Nita, adik saya sih pernah ke daerah itu. tapi nggak tau yang mana Mal Artha Gading. Berbekal peta, google map dan sedikit ingatan nita, berangkatlah kami bertiga kesana. Demi cincin kawin slash cincin pertunangan. Counter Soulmate di Artha Gading ini agak nyempil. Nanya mas-mas dan mbak-mbak di sana pada nggak tau. Rata-rata jawabannya “Aduh, pernah liat. Tapi lupa!” Mencari “Blok A3-5”  dengan menelusuri selasar di Ground Floor juga agak sulit.

Akhirnya ke information center. Si mbaknya langsung cekatan menjelaskan begitu nyebut ‘Soulmate’: “Lurus ke belakang, selasar pertama belok kiri, dia ada di sebelah kanan”. Mbak itu lupa menjelaskan satu hal: kalau ketemu ‘perempatan’ terus lurus aja. Alhasil kita kembali nyasar. Untung, dengan pertolongan mas cleaning service, kita bisa nemu soulmatenya. Kita di sini: Saya dan Nita. Si kk tiba-tiba menghilang. Ya Ampun! Nelpon nggak diangkat juga. Setelah celingukan beberapa menit. Akhirnya ngeliat si kk. Ternyata.. “Eh ada apartemen murah nih” Serunya sambil berjalan menghampiri saya dan Nita membawa brosur. Gubrakkk! “Ya Elah si kk..”

Continue reading