1 littre of tears

20 Aug

Awalnya, acara lamarannya mau dibuat sederhana saja. Hanya makan-makan biasa dengan keluarga, kerabat dan teman-teman dekat saja. Begitulah kesepakatan saya dan mama. Sampai kemudian mama meminta saya untuk mencari undangan untuk acara tsb. Dalam pikiran saya sih, namanya acara makan-makan, nggak perlulah pake undangan segala. Tapi kata mama, nggak sopan kalau nggak pake undangan. Apalagi, akan ada sedikit ritual adat (yang sebenernya nggak terlalu ribet, cuma seperti acara berbalas pantun dalam bahasa daerah). Cuma ya… keluarga/kerabat dan teman dekat mama papa itu jumlahnya 300 orang dong! Temen saya aja, acara kawinannya ngundang jumlah yang sama. Feeling-feeling bakalan bergeser nih konsep ‘makan-makan biasa’.

Untungnya mama setuju untuk nggak terlalu ngabisin duit untuk beragam keperluan acara. Ketika saya nawarin untuk bikin design dan cetak sendiri undangannya di vendor kantor saya (yang biasa ngasih harga murah) pun, mama ngedukung. Saya pun minta beliau untuk menyusun daftar undangan, syukur-syukur kalau ada yang bisa dikurangin. Alhamdulillah, jumlahnya pun berkurang. Dari 150 menjadi 100 undangan saja.

Dalam hal selera, sudah sangat disadari, kalau saya dan mama itu seringkali saling berbenturan. Udah nggak ketemu sejak kecil. Untungnyaa, saya tinggal di kota yang berbeda dengan beliau sejak usia 15 tahun. Kalau nggak, cekcok melulu. Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sejak berminggu-minggu yang lalu, saya sudah menjelaskan sedetail-detailnya konsep design yang bakal saya bikin; simpel, minim kata, berwarna kombinasi putih-pink-hitam, sesuai dengan nuansa warna acara lamaran yang saya inginkan. bahkan, saya pun ngirimin contoh-contoh undanganinspirasi dan pendekatan design yang bakal saya bikin, via blacberry dan email. Dan, dia setuju-setuju aja tuh, nggak banyak komentar. Ini nih, beberapa gambar yang dikirimin via dunia virtual itu:

Taken from www.beastpieces.com, www.do-it-yourself-invitations.com, www.invitesonline.net.au, www.bridalbuds.com, and www.myexpression.com

Fyi, gambar-gambar inspirasi di atas adalah hasil browsing saya selama berbelas-belas jam.

Mendapat respon positif, saya pun nyicil pelan-pelan ngerjain design undangan. Satu masalah muncul; saya sudah tidak punya software pengolah gambar lagi di netbook saya. Sengaja nggak pake soalnya kapasitasnya terbatas. Kalo maksa install adobe photoshop, adobe ilustrator atau corell draw, pasti jadi lemot. Males banget. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Itulah prinsip yang saya pinjam dari nenek moyang kita. Berbekal microsoft power point dan paint, saya pun mulai mengerjakan design undangan lamaran tsb.

3 jam kemudian…

setelah berganti-ganti design beberapa kali, keluarlah hasil seperti ini:

 

The 'sillhouette couple' picture taken from http://www.weddingpaperdivas.com

 

Langsung dikirim via bbm dan email ke mama.

Besoknya, adik saya si Nina ngirim message, yang mengindikasikan kalau mama nggak suka design-nya. ‘Terlalu sederhana’, ‘Terlalu sedikit kata-katanya’, ‘Seperti undangan ulang tahun, cuma kurang balon aja’, begitulah komentar-komentar ‘manis’ dari mama. Susah payah saya arguing: ‘Cuma untuk acara makan-makan biasa’, ‘Undangan kan cuma buat keluarga dan teman dekat’. Sepertinya gagal meluluhkan hati mama.Well, let’s face it: design itu memang terlalu ‘clean’ dan ‘modern’ untuk ukuran keluarga saya. Bahkan mungkin untuk masyarakat indonesia umumnya, model undnagan seperti ini bisa dianggap kurang ajar. Nggak pake kata basa-basi yang berputar-putar nggak pake lengkung-lengkung keriting atau bunga-bunga. Warnanya pun pucat, nggak glamour. Kalau meminjam istilah pergaulan di teman-teman kantor: “B’ banget!” alias Biasa banget.

Puncaknya, papa nelpon saya dan bertitah ‘undangan lamarannya dibikin di kendari saja’. Saya nggak pernah bisa berdebat dengan papa. Si mama tahu itu. Dan dia sama sekali nggak ngomong langsung ke saya. Cuma ngirimin sms yang bunyinya kurang lebih: ‘Papa maunya undangan dibikin di sini aja. Titik.’ Padahal waktu Nita, adik saya yang satunya, konfirmasi via telpon ke papa, beliau ngakunya nggak tau kalau saya sudah membuat design-nya. Mama nggak sounding itu ke papa. Dan papa cuma nggak mau ngerepotin saya.

Saya pun ngambek. Secara effort-nya itu lho… bikin sakit mata! belum lagi, dari awal mama udah tahu hasilnya kurang lebih seperti apa. Kalau emang nggak setuju, harusnya bilang dari awal. Biar nggak bikin menderita gitu lho…

Akhirnya, meskipun kecewa berat dan udah nangis bombay dua malam berturut-turut (kalau siang nggak bisa, lagi puasa soalnya.. hehehe..), saya mutusin untuk diam saja. Nggak mau memperpanjang masalah. Capek dan repot ke kantor dengan mata bengkak. Lagian ntar kalo ngomong sesuatu, takutnya menyinggung mama, bikin beliau ngambek dan ujung-ujungnya nggak mau bantuin ngurusin acara kawinan saya lagi.. duh! amit-amit… gimana tuh kalo gitu? Secara acaranya di sana. Pasrah aja deh…

Sighs,

C

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: