Dilamar dan dipinang, beda ternyata…

6 Oct

Salah satu kesalahan terbesar saya dalam hal persiapan acara lamaran kemarin adalah mengabaikan pengemasan seserahan. Saya cenderung santai ngurusin hal ini soalnya most of the seserahan adaah hasil-hasil bumi, yang pikir saya ketika itu, bakal diserahinnya sementah-mentahnya. Nyatanya, benda-benda itu harus dihias juga bow… (Jadilah, di kemudian hari ik kelabakan)

Salah satu hal unik dalam prosesi lamaran dalam suku tolaki (suku saya) terdiri dari dua hal, yaitu mondudutudu (melamar) dan mowawoniwule (meminang). So.. melamar dan meminang adalah dua hal yang berbeda bagi suku saya. Nggak jelas di mana perbedaannya. Barang-barang yang harus dibawa dalam mondudutudu adalah:

  1. Pelepah pinang 1 lembar
  2. Pinang 20-40 biji
  3. Daun Sirih 20-40 lembar
  4. Tembakau hitam 2-4 gulung
  5. Gambir 2-4 biji
  6. Kapur sirih 2-4 bungkus
  7. Pengalas lamaran 1 lembar sarung

Sementara seserahan dalam mowawoniwule (secara harfiah berarti ‘mengantarkan sirih’) adalah:

  1. Pelepah pinang 1 lembar
  2. Buah pinang 40-80 biji
  3. Daun sirih 40-80 biji
  4. Tembakau hitam 4-8 gulung
  5. Gambir 4-8 biji
  6. Kapur sirih 2-4 bungkus
  7. Beras 4-8 liter Kelapa 2-4 butir
  8. Minyak tanah 2-4 botol
  9. Minyak kelapa 2-4 botol
  10. Garam dapur 2-4 bungkus
  11. Gula merah 2-4 biji
  12. Gula pasir 2-4 bungkus
  13. Kopi bubuk 2-4 bungkus
  14. Teh 2-4 bungkus
  15. Ikan/lauk 2-4 potong/kg
  16. Pengikat pinangan: 1 buah kalung emas
  17. Pengalas pinangan: 1 lembar sarung
  18. Pengikat tunangan: 1 set baju Make-up 1 set
  19. Cincin pertunangan 2 buah

Namanya meminang, ya kudu pake buah pinang laa yaww.. (oh gitu ya?)

Selain seserahan di atas, ada juga amplop berisi sejumlah uang yang akan diserahkan kepada 2 orang ‘pabitara’, yaitu tokoh adat yang menjadi perwakilan pihak keluarga laki-laki dan perempuan. Amplop yang disebut sebagai ‘uang pelaksana adat’ ini sejatinya diperuntukkan bagi:

  1. Pemerintah : Rp. 20.000
  2. PAD Desa/Lurah: Rp. 50.000
  3. Puutobu: Rp. 20.000
  4. Duduk adat puutobo: Rp. 50.000
  5. Pembuka adat: Rp. 20.000
  6. Lawa sara: Rp. 70.000 Penutup adat: Rp. 20.000

Jangan tanya arti ‘PAD’, ‘Puutobu’, ‘Lawa sara’ itu apa ya… karena saya juga sama sekali tidak mengerti. Oh iya, masing-masing amplop tersebut di atas dibuat rangkap dua. Yang berarti, amplop untuk pemerintah ada dua lembar, yang masing-masing berisi Rp. 20.000. Celakanya, saya dan si kk baru tahu ini belakangan. Pabitara baru ngomong ini detik-detik rombongan keluarga kk mau berangkat menuju rumah saya. Alhasil, beberapa jam sebelum acara, si kk kelabakan nyari recehan buat ngisi amplop tersebut, dan sukses membuat rombongan keluarga kk telat datang dan tamu undangan makin lama menunggu…

Back to the seserahan. 2 minggu sebelum acara, mama nawarin diri untuk nanganin urusan hias menghias ini. Lebih tepatnya sih, mendelegasikan tugas tersebut ke tante-tante saya. Tadinya kepikiran untuk nyewa box seserahan untuk wadah cincin, kalung, make-up dan baju. Udah sempet ngubungin Iko, teman saya sewaktu kuliah, yang kerja di House of Seserahan (HOS). Kebetulan pemilik HOS itu adalah tantenya sendiri. Jadi, bisa minta diusahain jadi sebelum saya berangkat ke kendari, 1 minggu sebelum acara (sekalian libur lebaran tentunya). Eh, taunya.. gara-gara sibuk nyari diskonan buat belanja seserahan tersebut ditambah titipan belanjaan lebaran dari mama, nggak keburu deh ke HOS-nya. Dua hari setelah lebaran, tante-tante saya pun memulai misinya untuk bantu menghias seserahan lamaran saya.

Baru beberapa botol minyak goreng dan beras, tiba-tiba saya teringat saran dan tips-tips menghias dari si Iko, sebelum saya mudik ke kendari, yaitu menggunakan pita, koran dan double tape biar hasilnya lebih bagus. Langsung muncul ide busuk dari kepala saya untuk mengambil alih project hias menghias ini. Di kantor, saya seringkali harus berhadapan dengan prakarya tangan dan karenanya di’paksa’ untuk berkreasi. Alhasil, sisa seserahan lainnya, adalah buah dari DIM (So-it-myself) dengan bantuan adik pertama saya, Si Nina. Cerita lengkapnya bisa dilihat di posting berikutnya…

To be continued here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: