The E-Day (Part 1)

17 Nov

Hari Sabtu, tanggal 18 September 2010 , seminggu setelah lebaran itulah acara lamaran slash peminangan slash pelamaran saya dan digelar di rumah orang tua di Kendari sana. Tidak berlebihan rasanya kalau term ‘digelar’ dipake di sini. Pasalnya, orang tua saya mengundang 200 orang tamu. Belum termasuk keluarga dekat dan teman-teman SMP saya. *Nasib anak sulung*

The Numbers

18 September 2010. Bagi saya, tanggal ini bisa dikategorikan angka cantik. lihat saja–> 180910. Seperti angka berturutan bukan? Yah, kalau angka ‘1’ sebelum angka ‘8’ dihilangkan, jadinya 8-9-10. Iya kaan? Well, okay. Rada maksa sih. Tapi biar saja. yang penting mudah diingat. :p

Tadinya, saya pengen acara lamarannya hari Senin tanggal 20 Oktober saja. Angkanya cuantikk bok. 2010-2010. Hanya saja, ide ini ditolak oleh orang tua saya. Takut tamu-tamunya berhalangan hadir karena besoknya harus kerja. Padahal saya inginnya acaranya private saja. Hanya keluarga terdekat. Tapi daripada dikutuk jadi batu sama ibunda yaa.. ya sudahlah. Mending disimpan dulu kekuatannya untuk memperjuangkan tanggal pernikahan =)

Tetek Bengek

Untunglah, acaranya malam. Jadi seenggaknya saya masih bisa menenangkan syaraf-syaraf yang tegang karena segala tetek bengek yang belum siap hari Jum’at sebelumya. Pagi-pagi, saya bangun. Sarapan dan langsung me-list hal-hal yang masih belum jelas juntrungannya. Yaitu: Proyektor/TV untuk siaran ‘live’ buat tamu-tamu di luar, konfirmasi aldi untuk foto/videografi, song list untuk electon (alias organ tunggal) dan… toilet tamu yang belum dibersihin. Untuk yang satu ini saya concern setengah mati. Nggak mau nanti tamunya ilfil, nggak jadi pipis gara-gara toiletnya jorkis. Soalnya saya sering gitu kalau ke tempat-tempat baru.. hehehe.

Jam 9 pagi, si kk udah rapih siap-siap ke rumah salah satu kerabatnya yang ada di kendari, tempat opu nginap. Kenapa si kk nginap di rumah saya dan opu di rumah kerabat, lebih karena pertimbangan praktis aja; biar si kk bisa bantuin saya nyiapin berbagai keperluan. Nggak mau rugi bok. Lagian Dino, adik laki-laki saya satu-satunya yang baru kelas 2 SMP, seneng banget berbagi kamar dengan si kk. Soalnya laki-laki di keluarga saya dikit. Jadinya, dia kekurangan teman ngobrol dan begaol. Hihi.

Setelah si kk pergi, saya menyusun daftar lagu buat acara. Ya, sebenarnya sih rada pesimis si mas-mas tukang electonnya mau mainin lagu-lagu itu. Karena list baru akan saya kasih ketika mereka check sound sore nanti. Tapi tak apalah, coba aja, siapa tahu ada lagu yang biasa dia mainin.

Tidak berapa lama, Nina minta dianterin ke kampus tempatnya ngajar. Oh iya, adik saya yang satu ini punya 3 pekerjaan; Dokter PTT, Dokter Rumah Sakit dan Dosen. Jadi, sibuuukk banget. Dan.. koneksinya banyak bow. Alhasil kita bisa dapat pinjeman proyektor gratis dari kenalannya. Tidak tanggung-tanggung, 2 buah dari 2 orang yang berbeda. Canggih! Tadinya saya pikir, di Kendari nggak ada yang punya proyektor. Ups! i should not underestimate it😀

Ide ‘Busuk’

Sekalian ngambil proyektor dan beli cairan pembersih toilet😉 , Saya dan Nita nganterin nina ke kampus tempat dia ngajar. Di jalan, tiba-tiba saya kepikiran sesuatu. Proyektor + Layar = Video. YA! Selama ini, saya dan Nita sering membuat video dari foto-foto dengan software video editing. Saya untuk keperluan kantor. Si Nita untuk… narsis-narsisan saja sih. :p Nah, kenapa kita nggak bikin semacam slide show foto-foto. Seru kale yah?

Jadi, sesampainya di rumah saya pun buru-buru nge-scan foto-foto masa kecil saya dan keluarga. Sayangnya, keluarga si kk nggak punya banyak foto. Apalagi foto-foto jaman dahulu kala. Hampir semua sudah raib. Akhirnya saya minta ke Nita untuk bikinin video foto yang bercerita. Seperti apa? Bisa dilihat di sini.

Kekacauan Dimulai

Sembari Nita mengerjakan video tersebut, saya pun menyikat lantai kamar mandi. Yukss!! Dan… kekacauan pun mulai berdatangan. Awalnya, listrik rumah dimatikan dengan sengaja oleh salah satu om saya yang bertanggungjawab dalam hal perlengkapan. Celakanya, dia nggak info-info dong ke kita yang ada di rumah. Sementara Nita yang mengerjakan materi multimedia itu lupa untuk selalu save file. Jadilah hasil kerjanya hilang. Dengan emosi, dia pun meminta om saya untuk tidak lagi melakukan hal serupa. Kalaupun listrik harus dimatikan, harus ada pemberitahuan sebelumnya. Om saya setuju. Tapi dia lupa. Dan itu berulang lagi dua kali. Sampai akhirnya Nita tidak tahan. Nangis bombay dia ambil ngomel-ngomel. Pas banget ketika itu, saya sudah menyelesaikan tugas babu di kamar mandi. Jadilah, saya mengambil-alih tugas editing itu. Tidak berapa, saya harus melepaskan urusan editing ini karena:

1. Taplak yang spesial dijahit untuk acara ini, dibawain oleh penjahitnya ke rumah dalam keadaan 3/4 jadi! Padahal bikinnya udah 2-3 bulan sebelumnya.

2. Urusan naikin limit listrik belum kelar-kelar

3. Organ tunggal baru datang

4. Kursi juga baru datang. Belum dibungkus kain.

5. Kita dapat 2 proyektor pinjaman, tapi cuma 1 screen. Perlu satu lagi biar proyektor yang satu bisa kepake

6. Belum beres bikin song list buat organ tunggal

7. Ada salah satu tante yang sibuk nyuruh-nyuruh saya ambil ini itu di tengah-tengah saya ngurusin yang keperluan yang lain!!! arrgghh

8. Belum mandi

Akhirnya,

1. Nina ngakalin taplak ini dengan nambahin pita di bagian yang belum terjahit sempurna. Karena pita sisa hias seserahan nggak cukup, dia harus nyari ke toko lagi selagi masih ada waktu 3 jam sebelum acara.

2. Pasrah. Serahin pada ahlinya

3. Biarin organ tunggal bongkar barang dulu, setelah mandi baru briefing

4. Pasrah, nggak peduli, kursinya di bungkus ato nggak

5. Ngakalin pake kain yang dibentangin. Tapi karena posisinya nggak pas, terpaksa satu proyektor nggak jadi dipake. Diganti pake tivi biasa aja buat live report tamu di halaman rumah

6. Nyelesaiin song list sesegera mungkin

7. Menahan pusing dan emosi, ngerjain perintah dia cepet-cepet. Kalo 2 menit nggak ketemu barang yang diminta, langsung ninggalin, laporan ke dia dan langsung menyingkir sebelum disuruh-suruh lagi.

8. Mandi 5 menit.

Setelah mandi, saya langsung nge-brief organ tunggal dan penyanyinya untuk:

1. Bawain lagu-lagu yang ada di song-list yang udah saya bikin. Kalaupun nggak semua bisa, satu-dua lagu juga nggak apa-apa

2. Nggak bawain lagu dangdut (Pemain organ-nya protes “Lha kalo molulo* harus lagu dangdut. Bagaimana?” Saya bilang aja, molulo-nya kan setelah acara, nah di situ boleh dangdutan ato lagu remix ala diskotik jadul yang suka diputer di pete-pete**)

3. Nggak bawain lagu patah hati apalagi lagu selingkuh dan ‘punya istri dua’

4. Nggak ngijinin orang yang mau nyumbangin lagu, kecuali orang yang saya tunjuk yaitu tante saya yang emang penyanyi profesional di kendari

Enough with printilan

In the middle of the briefing, datanglah Aldi yang sudah siap untuk ngeliput. Tepat waktu sesuai perjanjian kita. Sekitar 10 menit kemudian, datanglah K’didi beserta asistennya dan dua buah box gede peralatan lenong. Akhirnyaa… Saya hentikan semua detail urusan persiapan itu, termasuk nina yang sedang sibuk dengan tim bala bantuan dari keluarga besar saya untuk membenahi taplak-taplak yang belum jadi. Langsung menuju kamar, siap didandanin oleh k’didi.

to be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: