The E-Day (Part 2)

18 Nov

Lanjutan dari sini..

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 ketika saya mulai didandanin oleh K’didi. Meskipun di luar riuh rendah dengan segala urusan dan persiapan, di dalam kamar segalanya tenang dan terkontrol. Kecuali di saat-saat Nita masuk dan menunjukkan wajah khawatir dan mulai mengeluh. Ternyata urusan editing belum beres, udah muncul masalah baru; nggak ada laptop di rumah yang udah di-charge. Mau muterin photovideo yang sedang dibikin Nita sambil nge-charge laptop, harus pake kabel roll. Karena nggak ada colokan yang dekat dari posisi laptop yang kudu bersebelahan dengan proyektor. Sementara semua kabel roll udah dipake untuk keperluan yang lain. Alamat di photovideo nggak bisa diputer nih. “Udah nit, jangan dipaksa. Kalau nggak bisa, ya sudahlah.” Gitu kata saya ke dia.

Selama saya didandanin itu, beberapa keluarga bolak balik masuk kamar buat ngeliatin saya. Mulai dari adik-adik saya, tante-tante, sepupu sampai kerabat lainnya. Duh, jadi malu.. berasa artis. Hehehe.. Cerita tentang make-up ini bisa diintip di sini.

Setelah K’Didi membubuhkan sentuhan terakhir, saya pun berganti baju. Langkah pertama adalah menggunakan kain tolaki warna pink, yang senada dengan kebaya lamaran saya. Beberapa hari sebelumnya, saya minta ke mama untuk ditemenin beli kain ini. Tapi secara koleksi sarung tolaki mama (sebagaimana juga ibu-ibu tolaki lainnya) banyak dan segala warna ada, mama ngelarang untuk beli lagi. “Pake punya mama saja” gitu katanya. Sebenernya sih nggak salah. Saya yang bego. Aturan saya ngepasin dulu ya sarungnya itu. Apa sih susahnya? Hypothetically, sarungnya nggak fit, kan bisa dijahit dulu. Hmm hypothetically… or not. Sebuncit-buncitnya perut saya, nggak sama dong kayak perut si emak (Peace ma! *sun tangan cipika cipiki*). So, tante-tante ngebantu masangin kain itu pake peniti. Nggak rapi sih. Tapi kan nggak keliatan ini. Orang ketutup kebayanya. That was i thought!

Dan.. sebagaimana prediksi sebelumya, bustiernya nggak muat! Salahkan saja menu lebaran di rumah, tepat seminggu sebelumnya yang enaaak enakk sampai saya bisa makan 5 kali dalam 1 hari *malu*. Aduh, udah bikin susah-susah di ayong, cantik lagi.. moso sih nggak jadi dipake? Setelah upaya nahan napas beberapa kali, dibantu kekuatan penuh dari salah satu tante yang narikin resleting, dipadu dengan lafalan ayat kursi yang saya ucapkan dalam hati (maksudnya biar setan-setan lemak di perut hasil kerakusan duniawinya bisa sedikit berkurang hihi..), bustiernya bisa juga sletingin. Say what? Alhamdulillah ya Allah.. *fiuh*

Kelar make kebaya, K’didi mulai milihin aksesoris yang pas untuk saya. Nah, di situ keringat saya mulai mengucur perlahan tapi pasti. Lho kok? Jadi ceritanya, in middle of upaya nge-pupur muka, si papa masuk ke kamar, meraih remote control, matiin AC dan berkata “Jangan nyalain AC ya, tadi listriknya baru aja jatuh lagi.” Sebernya sih tanpa AC, kamar itu nggak panas. Taapi.. usaha masang bustier itu luar biasa menguras energi. Jadilah saya bersimbah keringat selama menunggu panggilan keluar kamar.

Setelah itu, K’Didi beserta asistennya pun pamit karena ada urusan. Sementara saya, menunggu dengan penuh kecemasan akan kondisi di luar yang kayaknya riweuh. Adik-adik saya, si Nina dan Nita belum muncul lagi ke kamar. Bikin deg-degan. Tidak berapa lama, datanglah tante-tante dari pihak papa, yang saya jarang ketemu. Ngobrol-ngobrol sebentar, saya pun nanya-nanya, ngapain aja sih dalam lamaran tolaki itu. *eh!* Yeah i know.. it’s just too late.

Tapi, sehari sebelumnya, saya dan kk udah diskusi ke mama soal susunan acaranya. Kata beliau, kita mah simpel banget. Begitu saya dipanggil ke luar kamar, MC-nya akan memandu kami untuk saling bertukar cincin setelah itu kita salaman deh. Errr.. yup! salaman bok. Kata mama, biasanya di bagian ini, akan ada provokasi dari pihak-pihak tertentu yang cinta drama. Mereka ini akan ngompor-ngomporin untuk melakukan sesuatu yang ‘lebih’. Apa tuh? Kalo kata mama sih, biasanya ada CPW yang salim ke CPP. Whatt!!?? Saya pun janjian dengan si Kk. Pokoknya apapun yang terjadi nggak ada salim-saliman depan umum. Belum nikah ini! Kalau bisa, nggak usah salaman sekalian. Salaman ala sunda aja, yang nggak sentuh tangan. Saya juga bertanya kepada Mama apakah acara pertukaran cincin itu dilakukan langsung atau oleh perantara. Ternyata langsung bow. Padahal awalnya berharap cincinnya dipakein oleh salah seorang tante dari keluarga si Kk.

Bukan apa-apa bok. Bukanya saya narrow minded atau apa. Tapi.. keluarga dekat saya dan si kk agak sensitif untuk hal ini. Mama aja udah mewanti-wanti, nanti kalau setelah prosesi akad nikah, nggak ada cium-ciuman. Meskipun udah sah secara agama, tapi nggak enak diomongin orang. Kesannya nggak menghormati adat istiadat dan budaya. Selain itu, saya juga ingin menghormati Opu yang sangat religius. Acara lamaran ini saya, sebernya nggak disetujuin oleh beliau karena ‘dalam islam nggak ada yang namanya pertunangan‘ which is true. Tapi karena beberapa alasan yang nggak bisa saya sampaikan di sini, saya pun meminta kepada beliau (melalui kk) agar acara ini bisa tetap diadain.

Anyway, menurut tante saya yang pernah ngalamin langsung acara lamaran, acaranya nggak sesimpel yang dijelasin mama. FYI, acara lamaran adat tolaki ini dilakukan secara bersila. Jadi furniture di area ruang keluarga udah dipindahin sejak sore untuk acara ini. Nanti setelah saya dipanggil keluar, saya dan si Kk akan ke tengah-tengah keluarga yang membentuk lingkaran. Kemudian, dipandu oleh tetua-tetua adat atau keluarga dekat, kita saling memakaikan cincin satu sama lain. Setelah itu, kami akan berkeliling ruangan sungkeman ke seluruh keluarga yang ada di situ. Sambil bersimpuh dan pake setelah kebaya eike bok. Haa? Tiba-tiba saya teringat nasib sarung saya yang kurang pas dan dijepit seadanya dengan peniti di bagian belakang. “Eh, tante… peniti ini bisa lepas tidak?” Tanya saya sambil menunjukan si sarung. “Astaga!! ini siapa sih yang bikinin? Hancur gini?” Ehmm.. tiba-tiba pengen salto.

Untunglah pada saat yang sama, Nina masuk ke dalam kamar. Dalam keadaan sudah rapi. Secara dia tangannya cekatan, saya sedikit tenang. Setelah beberapa tidak ada tanda-tanda kemenangan, saya pun meminta Nina untuk mencarikan tali rafia. Soalnya, dulu jaman SD masih imut-imut, saya suka ditanggap nari. Biasanya, ibu-ibu yang makein kostumnya, membelit kita dengan tali rafia supaya sarungnya kenceng. Ternyata, trik ini masih sukses lho! Satu kelegaan lagi.

Waktu semakin malam. Tidak ada tanda-tanda kemunculan si Kk. Sebenernya saya kehilangan orientasi akan waktu. Blackberry mati, di kamar nggak ada jam. Nge-sms kk, nggak dibalas-balas juga. Orang-orang di kamar yang bolak-balik masuk yang bisa saya minta meng-update. Sembari menunggu kedatangan kk, saya pun melayani permintaan foto dari keluarga yang udah mandi dan rapi jali. Serius loh! berasa artis semalam!

Ceritanya lanjut ke posting selanjutnya ya…

3 Responses to “The E-Day (Part 2)”

  1. citra November 19, 2010 at 7:26 am #

    wah,
    sekeluarga cakep2 ya mba….^^

    • citralwi November 19, 2010 at 8:28 pm #

      hehehe.. makasih. yang dua orang itu masih jomblo lho *Promosi*😀

  2. citra November 25, 2010 at 8:18 am #

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: