The E-Day (Part 3)

15 Jan

Udah baca yang ini? Lanjuutt yuks..

Lagi asyik-asyiknya menerima permintaan foto dari sodara dan kerabat, tiba-tiba Nita datang membawa kabar bahwa si Kk beserta keluarga udah datang. Whoaaa! rasa cemas berganti sudah dengan deg-deg serr. Mulai deh keringetan lagi. Bedanya kalau yang sebeumnya keringet panas karena ga ada AC dan upaya nahan perut demi bustier, sekarang jadi keringet dingin. Tidak berapa lama Nita kembali membawa kabar heboh: “Gaswat! Orang-orang di dapur (kerabat) pada ngomongin, itu K Alwi salah duduk?” Saya langsung panik: “Haa? Duduk di mana? Bagaimana?” Ternyata, menurut sebagian keluarga calon menantu laki-laki yang datang melamar itu, seharusnya TIDAK duduk di sebelah calon mertua. Dan si kk dengan gagahnya duduk bersebelahan dengan mama aja dong.. sehingga menimbulkan ‘pergunjingan’ di area dapur😦

Demi langit dan bumi dan ketek yang semakin basah, saya cuekin saja kabar itu. Nggak mau ditanggepin. Meskipun perasaan nggak enak. Yah, sok cool aja. Padahal dalam hati hot😀

Rombongan keluarga kk beserta pabitara (tetua adat yang mewakili keluarga) dari pihak laki-laki datang dengan membawa lengkap dengan semacam logo besar ‘Telenga Saramami’ yang berbentuk daun pinang sebagai simbol untuk meminang (kalau bawanya pisang, judulnya memisang doongg? :p).

Saya kurang tahu detail prosesinya. Yang jelas, kalau ngeliat foto-foto (belum ngelihat videonya soalnya masih di kendari) dan inget-inget suara MC malam itu, rombongan keluarga Kk ini dipersilahkan masuk ke ruang tengah untuk kemudian duduk bersila. Setelah itu, pabitara dari kedua keluarga yang akan saling berkomunikasi dalam bahasa tolaki (that’s way meskipun si Kk tidak berdarah tolaki, pabitaranya haruslah orang yang bisa bahasa tolaki). Keluarga yang lain mah diam aja. Termasuk mama, papa dan Opu. Selain pabitara, yang memiliki hak untuk ngomong menggunakan mic adalah wakil pemerintah, yang dalam acara saya adalah camat setempat. Menurut informasi dari si Kk yang udah di-brief dengan pabitara-nya sebelum acara, umumnya wakil pemerintah dalam acara lamaran maksimal kepala desa. Karena itu, di kemudian hari si Kk sering ngeledekin saya karena heboh banget sampe melibatkan Pak Camat. Nggak tahu aja, si papa kan nyaris ngundang temennya, yang kebetulan menjabat sebagai gubernur, untuk hadir di acara lamaran kita yang sederhana layaknya rakyat jelata lainnya. Kalau nggak ditentang keras oleh mama. Bisa habis saya digodain terus-terusan ama si Kk..

Oh iya, karena jarak yang terbentang ratusan kilometer, dan lautan yang memisahkan kampung halaman kk dan saya, serta jadwal manasik haji Ibu dan Kak Aca (Kakak sulung si Kk) yang bertepatan dengan acara lamaran, akhirnya keluarga dari Polewali yang ikut hadir, hanya Opu saja. Selebihnya adalah kerabat kk yang kebetulan berdomisili di Kendari.

Begitu semuanya sudah duduk dengan manis, salah satu tante datang ke kamar saya dan merepet “Kok bajunya Alwi kayak gitu? Aduh hitam-hitam gitu!!” Saya menjawab sembari berusaha tersenyum manis “Iya nggak apa-apa tante. Emang kita janjiannya begitu.” Eh, si tante nggak puas “……bla bla bla.… pokoknya tante nggak approve baju alwi itu.” Mencoba bersikap tenang, saya pun menjawab “Ya, mau gimana lagi tante, mereka udah di sini. Udahlah.. nggak apa-apa.”

Ternyata masalah baju ini sangat sangat penting buat kerabat saya. Dan bisa dibahas panjang kali lebar kali tinggi. Waktu adik laki-laki saya satu-satunya, Dino masuk ke kamar spontan beberapa tante saya heboh komen. Apa pasal? mereka sangat nggak sreq dengan baju dese yang cuma kaos oblong, celana jeans dan peci itu. Awalnya sih, saya nggak mau pusing. Tapi lama-lama bikin mual. Soalnya lagi stress bok. Si Dino berkilah bahwa sulit bagi dia untuk kembali ke kamarnya. Karena lokasi sudah ‘terkepung’ dengan lingkaran acara lamaran. Udah sulit buat dia untuk menerobos kumpulan orang-orang. Lagian, nggak sopan kalee, lagi pada bersila gitu.. Lama terjadi arguement antara Dino dan para tante. Saya dan Nita yang lagi ada di situ, diajak untuk berkoalisi memprovokasi Dino untuk ganti baju. Tapi saya udah nggak punya kekuatan. Nita pun kayaknya udah mulai pusing. Entah gimana caranya, akhirnya Dino berhasil juga mengganti kaosnya dengan baju koko. Fiuh…

Dalam adat suku tolaki, acara pelamaran itu melibatkan tawar menawar ‘harga’ atau uang mahar (bukan mas kawin ya) yang dibungkus dengan pantun-pantun dengan bahasa tolaki tingkat tinggi yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sebenarnya, sebelumnya saya meminta ke mama agar bagian tawar menawar ‘nilai’ saya ini di-skip saja. Toh, sudah ada kesepakatan budget antara saya dan kk dan dengan sepengetahuan orang tua, termasuk sumber-sumber dananya. Tapi, menurut mama, hal ini tidak bisa dihilangkan karena bagian dari adat istiadat (padahal beberapa bulan sebelumnya, dese oke-oke aja waktu saya mengajukan hal ini). Akhirnya saya setuju ada prosesi ini, tapi dengan catatan: angka tidak disebutkan di depan microphone sampai kedengaran para tamu daann.. angkanya sudah kita sepakati bersama, yaitu X rupiah.

Nyatanya, pabitara saya berimprovisasi. Bukan X rupiah yang disebut. Tapi X+Y = Z …… %*#@*$

Gimana caranya saya bisa tahu? Simpel saja kok. Salah satu tante saya masuk ke kamar dan berkata: “Gila! Kamu kok mahal banget sih?!!” Reaksi saya: “…………” kemudian pengsan.

Okay, nggak pingsan sih. Tapi rasanya saya seperti dapat serangan jantung dan serangan panik. Setelah serangkaian keribetan sejak pagi, kejadian ini sukses menjadi penghancur semua ketegaran palsu saya. Alhasil, tanpa sadar saya ngomong ke diri sendiri. “Ya ampun gimana ini..?” dsb dst. Kesal dengan kepanikan saya. Nita, mencoba menenangkan. Sayangnya, upaya menenangkannya bukan dengan tutur kata lemah lembut. Tapi dengan nada dan intonasi yang sukses bikin darah saya naik. Sebenernya sih, memang begitulah gaya bicara Nita kepada saya sehari-hari. Cuma, karena sudah mengenal dengan baik, biasanya saya tidak ambil pusing. Cuma, kondisi ini sama sekali berbeda. Tekanannya begitu tinggi. Aarrgghh! Meledaklah saya! Dan saya dan Nita pun adu mulut, di hadapan para kerabat yang ada dalam kamar. Aduh, sebenernya nggak penting juga sih berantem nggak jelas. Tapi, waktu itu rasanya udah nggak tertahankan lagi.

Lagi seru-serunya berantem, salah satu kerabat memberitahu sudah saatnya bagi saya untuk keluar dan bertukar cincin dengan kk. Oh.. ternyata udah ada kesepakatan harga toh?😛 Para tante pun menyuruh Nita dan Nina untuk berjalan mendampingi saya.

And guess what? Nita dengan penuh emosi berkata nggak mau nganterin keluar. Saya hampir kepancing lagi. Untungnya karena deg-degan mau tuker cincin di depan publik, saya mengabaikan kalimatnya dan berjalan berdampingan dengan Nina.

OMG! Saya sama sekali nggak menyangka akan se’gemerlap’ itu. Di dalam kamar kan seolah-olah nggak terlalu banyak orang. Waktu masuk kamar sore-sore pun belum ada tamu sama sekali. Jadinya saya canggung banget menuju ruang tengah tempat si Kk dan keluarga menunggu. Untungnya Nina membisikkan kalimat sakti: “Senyum ci, biar di foto bagus! Ingat, selalu senyum. Smilee!!”  Alhamdulilah, saya jadi termotivasi untuk menebar pesona. Sementara dia malah keliatan kusut waktu di foto. Haha!

Mencari.. mencari… Aduh mana sih si Kk? Tadi Di sms, di-ping chat nggak bales-bales *Lho!*😀

Akhirnya.. Itu dia! Ya Aloh.. cakep banget sih si Kk ❤

Kita pun pandang-pandangan sambil tersenyum lebar. Untuk sementara, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak dulu. Mana ‘silau’ banget lagi dengan adanya lampu kamera. Asa gimanaaa gituh. Ambience-ya romantis bikin deg-deg serr banget.

Setelah itu, saya dan kk menuju ke tengah area acara untuk prosesi tukar cincin. Sambil ngelirik mic yang dipegang MC, sapa tau ada peluang mengambil alih mic dari tangannya biar lebih eksis. Heh? Apa? Iya… saya nggak punya lines sama sekali. Hiks! Di adat saya, nggak ada tuh yang namanya pertanyaan resmi ke capeng apakah bersedia menerima lamaran, apalagi kesempatan capeng untuk menjawab.  Kalau dikasih kesempatan, pastinya saya akan nyusun kata-kata indah nan menyentuh dan nyucapainnya dengan khusuk dan penuh perasaan, seperti teman saya Maya ketika dilamar: “Insya Allah, dengan restu keluarga, dst…” kan pengen juga ya begitu liat video lamaran, ada bagian di mana saya bersuara. Nggak cuma gambar era Charlie Chaplin.

Jadi, begitu ‘harga’ udah cocok di mata para tokoh adat, calon pengantin wanita (CPW) disuruh keluar dari dari kamar dan calon pengantin pria (CPP) pun disuruh masuk ke dalam rumah untuk tukar cincin. Ternyata ini toh yang tadi menimbulkan sedikit komen di antara para kerabat, yaitu karena si kk udah masuk aja ke dalam rumah sejak awal acara bersama rombongan keluarga. Alahh.. biarin ajalah. Like i care. :p

Kembali ke TKP, ada saya yang celingak celinguk meminta arahan dari para tetua yang duduk melingkar di tengah ruangan, mengenai apa tepatnya yang harus saya lakukan begitu sampai di tengah-tengah mereka. Mengikuti arahan mereka, saya dan si kk pun duduk hadap-hadapan dengan sebuah bantal di antara kami. Salah satu tante, perwakilan keluarga kk kemudian duduk di samping kiri saya dan sebelah kanan kk, membukakan kotak bertuliskan ‘soulmate’ (Yoi, we made it in Soulmate) kemudian mengangsurkannya kepada kami.

Dan kemudian.. terjadilah kekacauan pertama.

(Bustier-nya ketat banget, lemak-lemak pada ‘kejepit’ nggak bisa duduk bener deh..)

Saya bertanya dengan suara kecil kepada mama yang duduk tak jauh dari sisi saya, mengenai di tangan sebelah manakah cincin itu akan kami pasang. Mama berkata kanan. Kemudian seseorang entah siapa berkata kiri. Dan riuh rendah sahut-sahutan mengeleggar di penjuru ruangan.

“Kanan”

“Kiri!”

“Kiri!!!”

“Kanan!!”

“KIRI!”

Saya kebingungan, bolak balik pindah dari jari manis kiri kk ke jari manis kanannya.

Situasi semakin ramai.

Tiba-tiba, Papa yang jarang ngomong, bersuara dengan nyaringnya:

“KANAN Dong! Masa kiri?”

Then, kanan it is!! Langsung serta merta saya sematkan cincin paladium segede punya Tessi ke jari manis kanan kk.

Setelah itu, pemasangan kalung.

Sempat ada kebingungan yang canggung selama sesaat. Tapi saya cukup punya keteguhan hati untuk yang satu itu.

Saya pun meminta kepada tante si kk untuk memasangkan kalung tersebut di leher saya. Soalnya, saya bakalan kikuk banget kalau sampai kk yang masangin. Karena posisinya akan terlalu dekat, terlalu intim untuk dipamerkan kepada kerabat dan keluarga. Jadi, meskipun banyak kalimat-kalimat yang mendukung PDA secara formal dengan berkata:

“Alwi dong yang pasang..”

“Tidak boleh tantenya.”

Dengan penguatan dari mama yang bertitah “Dengan ibu saja ya” Seraya menyilahkan tante si kk ke arah saya, tekad saya pun semakin bulat “Enggak tante saja.”

Ketika kalung itu dipasangkan, ada pula yang berkomentar:

“Aduh, nggak usah malu-mau lah, udah tunangan ini…”

Maksud lo??

Puncak keriuhan adalah setelah pemasangan kalung tersebut. Para tamu, kerabat dan keluarga semakin ‘hot’ aja. Ada yang teriak penuh semangat:

“Eh, salaman dulu dong..”

Sesuai dengan kesepakatan saya dan kk, setelah mendengar cerita mama tentang situasi lazim di acara lamaran di mana para hadirin yang  terdorong  oleh rasa haus akan drama dan hiburan, memprovokasi para capeng untuk memamerkan kemesraan, saya cuma menangkupkan kedua tangan di dada demi mendengar komentar barusan. Si kk pun refleks melakukan hal sama. Tapi mereka tentunya tidak puas. Ramai-ramai pun terdengar dorongan-dorongan bagi kami untuk melakukan hal yang ‘lebih’. Supaya segera berakhir, saya pun melakukan salaman ala sunda kepada kk dengan menyentuhkan ujung-ujung jari ke ujung jari kk sembari tetap menangkupkan kedua telapan tangan. Celetukan-celetukan semakin ramai.

Ada suara bersahut: “Salim nak, salim.” Saya cuekin saja. Lama-lama terjadi keanehan. Kok suaranya makin nyaring terdengar ya? Rupanya salah satu tante jauh saja (yang sudah sekitar 5 tahun tidak pernah saya jumpai), sudah ada di sebelah kanan saya! Bookk!! It’s supposed to be just kk and me in the middle of the room. Kenapa dia ikut-ikutan ada di situ?

Saya pun menggeleng sopan kepada tante saya itu. “Nggak apa-apa tante, nggak usah.” Tapi dia tetap ngotot seolah-olah tidak mendengar suara saya (mungkin juga emang beneran nggak ngeliat soalnya berisik banget waktu itu) “Ayo nak, salim! salim!” begitu katanya sambil menepuk bahu saya. Lama-lama saya semakin heboh menggeleng. “Nggak tante, belum kawin. Nanti saja.” Eeh… ada lagi deh suara nyaring yang berkata dengan santainya: “Jangan malu-malu, ayo.. udah sah!”

Sah ndasmu!!! Ihh…

Setelah ‘insiden’ itu, saya dan kk kemudian harus sungkem dan salaman ke seluruh keluarga dan kerabat dekat yang ada di ruangan itu. Buanyak juga ya? Hiks. Si kk cengar cengir geli “aduh, nggak pake rehearsal nih.” Nggak pake acara terharu atau nangis-nangis ya.. soalnya bising dan suasanaya penuh keriaan. Sedikit canggung aja pas cipika cipiki ama Nita seraya meminta maaf atas berantem nggak penting tadi. hehe..

Acara pun ditutup dengan doa bersama. Saya yang masih terguncang, hanya menunduk dengan tatapan kosong saja. Tiba-tiba, salah satu kerabat yang sudah uzur menepuk pundak saya dari belakang, saya menoleh, dia berkata “Berdoa nak!” sambil mengangkat kedua tangannya menunjukkan tata cara berdoa yang lazim, kemudian tersenyum. Saya balas tersenyum malu.

Udah, gitu aja. Para tamu dipersilahkan santap malam (yang sangat telat, karena udah jam 21.00) sembari dihibur alunan electone dan video berupa slide foto-foto yang berhasil diselesaikan (Alhamdulillah..). Lantas kami pun menyapa beberapa di teman dan kerabat serta keluarga jauh yang datang. Saya pun diberondong pertanyaan teman-teman SMP: “Tadi kamu kenapa geleng-geleng heboh?” Yukss…

Ketika para tamu pamit pulang, saya dan kk berdiri di dekat pagar untuk menyalami mereka satu-satu. Aduh, berasa latihan sebelum hari ‘H’. Selanjutnya.. setelah tamu habis, beberapa angota keluarga yang muda-muda atau berjiwa muda pun memulai lulo. Apaan tuh? Itu semacam tarian rakyat tolaki yang dilakukan muda-muda setelah acara kondangan berlangsung. Jaman dulu sih biasa dijadiin ajang cari jodoh, mejeng atau sekedar flirting. Sampai ketika saya SMP dulu, tradisi itu masih berlaku di kampung-kampung. Nggak tahu sekarang bagaimana. Yang jelas, malam itu, hanya cewek-cewek saja yang ikutan ‘molulo’ (menarikan lulo) diiringi lagu-lagu disco remix atau dangdut dari electone sewaan. Lha wong, keluarga saya mayoritas cewek. Hehe.. Sempet ngajarin si kk juga, tapi dia nggak bisa lama-lama. Saya pun nggak bisa lama-lama. Maklum faktor ‘U’. Napas udah ngos-ngosan ngikutin ritme musik yang cepat. Haha..

 

Love,

C

3 Responses to “The E-Day (Part 3)”

  1. nona January 16, 2011 at 1:15 am #

    seruuuuu…sa slalu suka gaya tulisanx cici..persis spt saat bcerita..semoga hari H nya lancar ci…udah sembuh kan??

  2. Zahra February 27, 2014 at 12:56 pm #

    Pengen liat foto lamarannya yg lain & lebih banyak lagi dimana ya ?

Trackbacks/Pingbacks

  1. 2011.2011 « Now, let the journey begins… - November 22, 2011

    […] on her engagement day. Thanks to K’Didi (who did tremendous job to my face last year in my engagement night) GA_googleAddAttr("AdOpt", "1"); GA_googleAddAttr("Origin", "other"); GA_googleAddAttr("LangId", […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: