Archive | Cincin RSS feed for this section

The Ring (Bukan Film Horor)

18 Jan

Unlike the other engaged couple, we don’t wear our engagement ring.

We’ve never thought that we’ll end up using the word of: ‘tunangan’ whatsoever. We weren’t into that concept actually. We just want to get married, period. But for the sake of ‘adat istiadat’ and family’s honour, there should be engagement ceremony, the one that we call ‘lamaran’ here in Indonesia. Guess what.. once you’re purposed through the lamaran ceremony, and you (or in my case, your family ;D) approve it, they said that your status have been changed into ‘engaged’ (and now you can go to facebook and edit your status).

Continue reading

Beyond Solitaire Ring

22 Aug

Sepulang dari Soulmate untuk memesan cincin pertunangan / perkawinan, saya masih saja ragu apakah model yang saya dan kk pesan itu sudah cukup oke. Saya bolak-balik browsing lagi, nyari gambar-gambar cincin berwana rose gold dan menyadari bahwa warna itu lebih cocok kalau modelnya plain glossy saja. Nggak usah pake dove sama sekali. Cuma Nita, adik kedua saya mengingatkan kalau yang namanya cincin kawin itu harusnya bermodel sama. Yah paling enggak, adalah kesamaannya. Namanya juga cincin pasangan. Sampai dini hari, saya masih terjaga. Tapi akhirnya tertidur juga sambil kebayang-bayang si cincin bulat polos warna emas ke-merahjambu-an itu.

Esok paginya, ngecek hape, eh ada 2 SMS (dikirim ke dua HP) berbunyi sama dari si kk:
“Setelah saya renungkan, lebih baik cincin kawin itu kamu pilih yang lebih bagus aja. Telpon soulmate untuk pilih model lain. Jangan khawatir soal harga. Takutnya, model tadi terlalu sederhana buat kamu.”

Continue reading

Akhirnya ketemu juga…

17 Aug

Setelah tertunda berkali-kali, akhirnya minggu kemarin ke Soulmate Ring juga. Alhamdulillah…

Seumur-umur, saya belum pernah ke daerah Kelapa Gading (Apaa???), apalagi ke Mal Artha Gading. Begitupula si kk. Nita, adik saya sih pernah ke daerah itu. tapi nggak tau yang mana Mal Artha Gading. Berbekal peta, google map dan sedikit ingatan nita, berangkatlah kami bertiga kesana. Demi cincin kawin slash cincin pertunangan. Counter Soulmate di Artha Gading ini agak nyempil. Nanya mas-mas dan mbak-mbak di sana pada nggak tau. Rata-rata jawabannya “Aduh, pernah liat. Tapi lupa!” Mencari “Blok A3-5”  dengan menelusuri selasar di Ground Floor juga agak sulit.

Akhirnya ke information center. Si mbaknya langsung cekatan menjelaskan begitu nyebut ‘Soulmate’: “Lurus ke belakang, selasar pertama belok kiri, dia ada di sebelah kanan”. Mbak itu lupa menjelaskan satu hal: kalau ketemu ‘perempatan’ terus lurus aja. Alhasil kita kembali nyasar. Untung, dengan pertolongan mas cleaning service, kita bisa nemu soulmatenya. Kita di sini: Saya dan Nita. Si kk tiba-tiba menghilang. Ya Ampun! Nelpon nggak diangkat juga. Setelah celingukan beberapa menit. Akhirnya ngeliat si kk. Ternyata.. “Eh ada apartemen murah nih” Serunya sambil berjalan menghampiri saya dan Nita membawa brosur. Gubrakkk! “Ya Elah si kk..”

Continue reading

(Katanya) Pengikat Hati

14 Aug

Dulu, pernah baca, entah mitos atau fakta, katanya di jari manis kiri manusia itu ada sebuah syaraf yang terhubung langsung di jantung (atau ‘heart’ bagi orang bule sono). Atas dasar kepercayaan itulah, di benua lain, lahir konsep cincin perkawinan yang dipasang di jari manis tangan kiri. Nilai filosofisnya adalah: “My heart has been tied-up” atau “Hatiku telah terikat”. Begitu konsep cincin kawin ini diserap oleh masyarakat indonesia, makna tadi udah nggak terlalu nyambung lagi. Karena, bagi sebagian besar orang indonesia, cincin kawin dipasang di jari manis di tangan kanan. Mungkin akulturasi ini terjadi karena bagi masyarakat indonesia umumnya, tangan kiri adalah tangan yang ‘kotor’. Sedangkan tangan yang baik adalah tangan kanan. Mungkin ya… Nggak tahu juga kebenarannya. Cuma mengira-ngira aja.

Enough soal latar belakangnya, yang pasti cincin kawin itu hal yang kudu/harus/wajib ada. Saya sih oke-oke aja. Tapi nggak bagi si kk. Dia paling nggak suka pake cincin. Seumur-umur nggak pernah ngasih cincin (dan nggak pernah ngasih saya juga -_-). Nyoba Bujukin si kk dengan kalimat: “Nggak pake emas kok. Kan dalam islam nggak boleh juga cowok pake emas” atau “Ntar modelnya dibikin macho deh… kk boleh milih”. Nggak mempan juga. Akhirnya pake senjata pamungkas: “Oh, jangan-jangan kk nggak mau pake cincin, biar bisa flirting ya..? Biar nggak ketauan udah kewong”. Berhasil tuh. Yihaa!

Continue reading