Archive | Engagement RSS feed for this section
Image

2011.2011

22 Nov

My sister was engaged last weekend. I’m so happy for her yet sad at the same time. She’s about to enter a new phase of her life. I still can’t believe that it’s gonna be this fast. It was like yesterday we played together on the backyard of our parents’ little house… well, actually we rarely played together. I was always found reading at the terrace while she and our little sister creating some new weird toys and mud involved games.

Continue reading

The E-Day (Part 3)

15 Jan

Udah baca yang ini? Lanjuutt yuks..

Lagi asyik-asyiknya menerima permintaan foto dari sodara dan kerabat, tiba-tiba Nita datang membawa kabar bahwa si Kk beserta keluarga udah datang. Whoaaa! rasa cemas berganti sudah dengan deg-deg serr. Mulai deh keringetan lagi. Bedanya kalau yang sebeumnya keringet panas karena ga ada AC dan upaya nahan perut demi bustier, sekarang jadi keringet dingin. Tidak berapa lama Nita kembali membawa kabar heboh: “Gaswat! Orang-orang di dapur (kerabat) pada ngomongin, itu K Alwi salah duduk?” Saya langsung panik: “Haa? Duduk di mana? Bagaimana?” Ternyata, menurut sebagian keluarga calon menantu laki-laki yang datang melamar itu, seharusnya TIDAK duduk di sebelah calon mertua. Dan si kk dengan gagahnya duduk bersebelahan dengan mama aja dong.. sehingga menimbulkan ‘pergunjingan’ di area dapur 😦

Demi langit dan bumi dan ketek yang semakin basah, saya cuekin saja kabar itu. Nggak mau ditanggepin. Meskipun perasaan nggak enak. Yah, sok cool aja. Padahal dalam hati hot 😀

Rombongan keluarga kk beserta pabitara (tetua adat yang mewakili keluarga) dari pihak laki-laki datang dengan membawa lengkap dengan semacam logo besar ‘Telenga Saramami’ yang berbentuk daun pinang sebagai simbol untuk meminang (kalau bawanya pisang, judulnya memisang doongg? :p).

Continue reading

The E-Day (Part 2)

18 Nov

Lanjutan dari sini..

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 ketika saya mulai didandanin oleh K’didi. Meskipun di luar riuh rendah dengan segala urusan dan persiapan, di dalam kamar segalanya tenang dan terkontrol. Kecuali di saat-saat Nita masuk dan menunjukkan wajah khawatir dan mulai mengeluh. Ternyata urusan editing belum beres, udah muncul masalah baru; nggak ada laptop di rumah yang udah di-charge. Mau muterin photovideo yang sedang dibikin Nita sambil nge-charge laptop, harus pake kabel roll. Karena nggak ada colokan yang dekat dari posisi laptop yang kudu bersebelahan dengan proyektor. Sementara semua kabel roll udah dipake untuk keperluan yang lain. Alamat di photovideo nggak bisa diputer nih. “Udah nit, jangan dipaksa. Kalau nggak bisa, ya sudahlah.” Gitu kata saya ke dia.

Selama saya didandanin itu, beberapa keluarga bolak balik masuk kamar buat ngeliatin saya. Mulai dari adik-adik saya, tante-tante, sepupu sampai kerabat lainnya. Duh, jadi malu.. berasa artis. Hehehe.. Cerita tentang make-up ini bisa diintip di sini.

Continue reading

The E-Day (Part 1)

17 Nov

Hari Sabtu, tanggal 18 September 2010 , seminggu setelah lebaran itulah acara lamaran slash peminangan slash pelamaran saya dan digelar di rumah orang tua di Kendari sana. Tidak berlebihan rasanya kalau term ‘digelar’ dipake di sini. Pasalnya, orang tua saya mengundang 200 orang tamu. Belum termasuk keluarga dekat dan teman-teman SMP saya. *Nasib anak sulung*

The Numbers

18 September 2010. Bagi saya, tanggal ini bisa dikategorikan angka cantik. lihat saja–> 180910. Seperti angka berturutan bukan? Yah, kalau angka ‘1’ sebelum angka ‘8’ dihilangkan, jadinya 8-9-10. Iya kaan? Well, okay. Rada maksa sih. Tapi biar saja. yang penting mudah diingat. :p

Tadinya, saya pengen acara lamarannya hari Senin tanggal 20 Oktober saja. Angkanya cuantikk bok. 2010-2010. Hanya saja, ide ini ditolak oleh orang tua saya. Takut tamu-tamunya berhalangan hadir karena besoknya harus kerja. Padahal saya inginnya acaranya private saja. Hanya keluarga terdekat. Tapi daripada dikutuk jadi batu sama ibunda yaa.. ya sudahlah. Mending disimpan dulu kekuatannya untuk memperjuangkan tanggal pernikahan =)

Continue reading

Turnamen gaple pra-lamaran

16 Oct

Menjadi kebiasaan di dalam komunitas masyarakat kendari, khususnya suku tolaki, untuk menggelar kompetisi catur atau kartu  domino (also known as ‘gapleh’ in our community) bagi para lelaki, sebelum dan sesudah perayaan acara. Entah itu sunatan, aqiqahan , pernikahan atau acara perayaan lain, asal bukan acara kedukaan aja 🙂

2 hari sebelum acara lamaran, papa pun sudah siap-siap menggelar turnamen gapleh se-kompleks rumah saya di kendari. Beliau pun meminta salah satu om untuk menjadi PIC acara tersebut, termasuk menyediakan hadiah bagi para pemenang. Oh iya, dalam kompetisi amatiran ini, hadiah tidak perlu bombastis, yang jadi inti dari dari keseruannya adalah kesenangan para bapak-bapak/kakek-kakek dan ABG tersebut dalam bermain catur/gapleh dan menunjukkan kemampuan mereka.

Continue reading

Jepret..jepret..jeprett!

14 Oct

lanjutan dari cerita ini

Setelah ngubungin dan nanya-nanya harga liputan Aldi (thanks to bbm), kita janjian ketemuan buat briefing hari Kamis, 2 hari sebelum acara lamaran dan pas si Kk datang dari Makassar. Dasar sayanya (dan di kk juga sih…)  concern banget masalah perdokumentasian ini, Aldi di-brief sedetail-detailnya, sampe dia pusing sendiri. hehehe. Untung Aldi itu teman lama, kalo nggak.. pasti jadinya males banget ngadepin saya yang ribet ini ( ^^)V

Di hari H, Aldi datang tepat waktu, sesuai dengan permintaan saya, yaitu jam setengah 5 sore, sebelum saya didandanin. Oh iya, kata Aldi sih, saya satu-satunya client dia yang minta difoto pada waktu make-up. Yukss..! Saya puas banget dengan cara kerja Aldi yang profesional, mudah diatur, ngikutin keinginan client dan… murmer cyinnn.. Dijamin kaget kalo saya sebutin berapa. Apalagi kalau liat hasilnya. Cuma, karena Aldi cuma berdua dengan videografernya, ada beberapa liputan yang nggak bisa di-capture, yaitu tamu-tamu papa mama yang sejembreng umat itu. Tapi nggak apa-apa, karena sesuai dengan brief saya  ke Aldi, dahulukan candid. Liputannya kalau nggak bisa kejepret, nggak apa-apa. Pake skala prioritas deh, siapa yang paling penting buat disorot? Ya tentu saja saya dan si kk doongg.. haha!

Ini nih beberapa contoh hasil jepretan Aldi:

Continue reading

Berburu Fotografer

14 Oct

Menurut saya, unsur yang paling penting dalam acara pernikahan adalah dokumentasi. Karena setelah acara usai, makanan habis, dekorasi dibongkar, make-up dihapus, baju dilepas.. (ganti dengan baju lain dong.. :p ) yang tersisa adalah foto-foto dan video acara tsb. Ini adalah satu-satunya yang kekal kita simpan sampai nanti. Karenanya, waktu acara lamaran kemaren, saya cukup uring-uringan nyari fotografer yang bisa meng-capture momen istimewa tersebut.

Bukan apa-apa, nyari fotografer di Kendari yang bisa motret sesuai selera tuh susah ya bow. Ya, nggak perlu secanggih the uppermost atau yang jam terbangnya tinggi macam timur angin atau jacky suharto. Cukup yang bisa menghasilkan gambar yang decent. Sebenarnya bukannya nggak ada sama sekali, cuma saya agak trauma sih. Dulu pernah foto keluarga di studio foto yang katanya paling baguslah di kota itu. Fotografernya sih bisa foto, cuma pas jadi (saya ngambil semua file mentah, which is hal yang baru buat mereka, sebelumnya belum pernah ada client yang seperti itu), dia banyakan editnya karena ngambilnya nggak proporsional. Udah gitu, dari puluhan foto yang dihasilkan, 90% saya yang jadi pengarah gayanya. Dia cuma nunggu aja, sampe kita siap, baru dia jepret. Ada 1 foto yang diarahin ama dia, hasilnya… IMHO, paling jelek nggak sesuai harapan di antara semua 😦

Continue reading

Kebaya cantik untuk lamaran

12 Oct

Karena sibuk banget ngurusin keperluan kawin, saya tidak sempat meng-update beberapa cerita persiapan lamaran kemarin. Sekarang ceritanya mau bayar utang nih. Dicicil satu-satu nggak apa-apa ya..?

Setelah perjuangan berminggu-minggu untuk ketemu Ayong, akhirnya tiba juga saatnya untuk fitting. Salah satu yang saya sukaaa dr Ayong ini adalah dia tuh selalu on time kalo janjian. Sementara saya, well.. saya ama si kk (sebenernya sih mau nyalahin si kk tapi biar ga terlalu keliatan jahat, nyebutnya ‘kita’ aja ;p ) selalu nggak tepat waktu. Molor sejam atau 1,5 jam. Gara-garanya kita ke sangar reksi di pondok kelapa, selalu lewat jalan yang beda-beda (alias kita kk selalu improvisasi lewat segala jalan).

Fitting pertama dilakukan 2 minggu setelah kain terakhir diberikan. Menurut saya sih, hasilnya menakjubkan. Nggak terlihat bekas-bekas ‘kenistaan’ kain itu sebelum dijahit. Menurut pengakuan Ayong, payetin kain itu susah banget karena motifnya nggak timbul. Duh, maapin saya yang bego milih kain, ya Ayong.. 😦

Continue reading

DIY err.. DIM Seserahan (For the sake of Color Palette)

6 Oct

Mungkin saya cukup beruntung, karena mama baru merintis usaha bridal. Jadi, ada beberapa items yang nggak perlu beli lagi.  Salah satunya adalah wadah seserahan. Well, i have to say that i’m not crazy about the box. Kurang sejahtera saya… Ini nih penampakkannya:

Selain itu, warnanya juga nggak matching dengan color pallete yang direncanakan sebelumnya. Ya, meskipun akhirnya nggak pake warna ini karena susah nemu warna ‘cameo’-nya. Tapi pasti jauh dari warna tenda yang udah terpasang dan kebaya saya yang dibikinin ayong. Apalagi warna untuk seserahan, hadiah kain mandar dan tas handmade dari ibu juga sama, warna pink. Kalo warna koneng di atas dipaduin ama pink, bisa dipastikan mata bakal jadi sayu-sayu lelah gimana gitu, kecapean lihat perpaduan warna gonjreng gitu…

Continue reading

Dilamar dan dipinang, beda ternyata…

6 Oct

Salah satu kesalahan terbesar saya dalam hal persiapan acara lamaran kemarin adalah mengabaikan pengemasan seserahan. Saya cenderung santai ngurusin hal ini soalnya most of the seserahan adaah hasil-hasil bumi, yang pikir saya ketika itu, bakal diserahinnya sementah-mentahnya. Nyatanya, benda-benda itu harus dihias juga bow… (Jadilah, di kemudian hari ik kelabakan)

Salah satu hal unik dalam prosesi lamaran dalam suku tolaki (suku saya) terdiri dari dua hal, yaitu mondudutudu (melamar) dan mowawoniwule (meminang). So.. melamar dan meminang adalah dua hal yang berbeda bagi suku saya. Nggak jelas di mana perbedaannya. Barang-barang yang harus dibawa dalam mondudutudu adalah:

Continue reading