Archive | Lensa Art Photography RSS feed for this section

Jepret..jepret..jeprett!

14 Oct

lanjutan dari cerita ini

Setelah ngubungin dan nanya-nanya harga liputan Aldi (thanks to bbm), kita janjian ketemuan buat briefing hari Kamis, 2 hari sebelum acara lamaran dan pas si Kk datang dari Makassar. Dasar sayanya (dan di kk juga sih…)  concern banget masalah perdokumentasian ini, Aldi di-brief sedetail-detailnya, sampe dia pusing sendiri. hehehe. Untung Aldi itu teman lama, kalo nggak.. pasti jadinya males banget ngadepin saya yang ribet ini ( ^^)V

Di hari H, Aldi datang tepat waktu, sesuai dengan permintaan saya, yaitu jam setengah 5 sore, sebelum saya didandanin. Oh iya, kata Aldi sih, saya satu-satunya client dia yang minta difoto pada waktu make-up. Yukss..! Saya puas banget dengan cara kerja Aldi yang profesional, mudah diatur, ngikutin keinginan client dan… murmer cyinnn.. Dijamin kaget kalo saya sebutin berapa. Apalagi kalau liat hasilnya. Cuma, karena Aldi cuma berdua dengan videografernya, ada beberapa liputan yang nggak bisa di-capture, yaitu tamu-tamu papa mama yang sejembreng umat itu. Tapi nggak apa-apa, karena sesuai dengan brief saya  ke Aldi, dahulukan candid. Liputannya kalau nggak bisa kejepret, nggak apa-apa. Pake skala prioritas deh, siapa yang paling penting buat disorot? Ya tentu saja saya dan si kk doongg.. haha!

Ini nih beberapa contoh hasil jepretan Aldi:

Continue reading

Advertisements

Berburu Fotografer

14 Oct

Menurut saya, unsur yang paling penting dalam acara pernikahan adalah dokumentasi. Karena setelah acara usai, makanan habis, dekorasi dibongkar, make-up dihapus, baju dilepas.. (ganti dengan baju lain dong.. :p ) yang tersisa adalah foto-foto dan video acara tsb. Ini adalah satu-satunya yang kekal kita simpan sampai nanti. Karenanya, waktu acara lamaran kemaren, saya cukup uring-uringan nyari fotografer yang bisa meng-capture momen istimewa tersebut.

Bukan apa-apa, nyari fotografer di Kendari yang bisa motret sesuai selera tuh susah ya bow. Ya, nggak perlu secanggih the uppermost atau yang jam terbangnya tinggi macam timur angin atau jacky suharto. Cukup yang bisa menghasilkan gambar yang decent. Sebenarnya bukannya nggak ada sama sekali, cuma saya agak trauma sih. Dulu pernah foto keluarga di studio foto yang katanya paling baguslah di kota itu. Fotografernya sih bisa foto, cuma pas jadi (saya ngambil semua file mentah, which is hal yang baru buat mereka, sebelumnya belum pernah ada client yang seperti itu), dia banyakan editnya karena ngambilnya nggak proporsional. Udah gitu, dari puluhan foto yang dihasilkan, 90% saya yang jadi pengarah gayanya. Dia cuma nunggu aja, sampe kita siap, baru dia jepret. Ada 1 foto yang diarahin ama dia, hasilnya… IMHO, paling jelek nggak sesuai harapan di antara semua 😦

Continue reading