Archive | Photography RSS feed for this section

Persiapan Photo Session ala Kite

1 Jan

Seperti halnya para cpp (calon pengantin pria) pada umumnya, si kk ogah-ogahan ngurusin tetek bengek persiapan kawin. Tapi situasinya berubah sejak kita memasuki akhir bulan oktober. Kenapa? Kita mau poto session cuy! Kata orang sunda: engagement session. Sementara kata orang jawa: pre-wedding session. Apapun namanya itu, yang penting selama menyangkut pose dan foto, si kk yang nama tengahnya ‘narcissus federikus baukakus’ itu pasti bakal heboh. Nggak salah lagi.

Continue reading

Jadi model sehari. Alamaakk!

29 Dec

Hari pemotretan, subuh-subuh jam 5, saya sudah bangun. Mandi dan beberes. Jam setengah 6 sudah ready to go. Sayangnya Nita nggak bisa nganterin karena harus kuliah pagi. Alhasil, dipinjeminlah si Jezzy untuk saya bawa. Hmm.. Masalahnya, terakhir kali saya nyetir itu tahun 1678 (nyetir kereta kuda maksud lo??). SIM juga udah expired. Tapi dikuat-kuatin lah mental. Dan terjadilah insiden pertama: pas mo cabs, saya nyadar STNK-nya nggak ada. Kayaknya waktu mindah-mindahin barang-barang 1 gerobak ke dalam si jezzy, saya nggak sengaja jatuhin. Udah keringet dingin, bolak-balik jalan nelusurin. Nggak ketemu-ketemu juga.

15 menit kemudian, STNK-nya ketemu! Nyelip di kursi depan. Halah!!

Terus muterin jezzy di jalan sempit depan kosan Nita. Ya aloh, nggak bisa-bisa coba. Saya takut banget si jezzy kegores. Bisa murka si Nita.

10 menit kemudian, ada bapak-bapak yang bantuin liat jalan. Alhamdulillah, berhasil juga. Udah jam 6 lewat dikit cing! Untung udah bbm Gia, ngasih tahu saya bakal telat.

Walahi!! Jalan Dago macet banget pagi itu. Mana saya takyuutt dan shocked. Alhasil, jalan pelan-pelan 40 km/jam. Bagoosss…

Nyampe asrama di Jl. Flores, jam 06.45. Ih.. Cantikkk yeee!!

Continue reading

Inilah Photografer kita (Part 2)

31 Oct

Lanjutan dari cerita ini

Setelah bertemu dengan Tim Tikma, akhirnya saya dan kk mutusin untuk deal make jasa mereka. Alhamdulillah… Tapi baru tahu ternyata, kenapa harga penawarannya lumayan terjangkau, karena penawaran yang dikirimin via email kemarin adalah paket U-Wish, yang mana merupakan second line dari Tikma. Kurang lebih istilahnya: paket ekonomisnya lah gitu. Hmm.. sebenernya sempet ragu juga, karena takut hasilnya nggak sebagus portofolio yang udah kita liat. Tapi karena berdasarkan informasi dari Mbak Tari, marketing Tikma Photography, hasilnya bisa sama bagusnya, saya jadi teryakinkan untuk make jasa Tikma aja. Apalagi, si kk sama sukanya dengan hasil jepretan mereka.

Continue reading

Inilah dia Photografer kita… (Part 1)

28 Oct

Bagi beberapa orang, acara perayaan pernikahan harus total dalam hal jamuan makanan untuk tamu. Sehingga catering menjadi fokus utama persiapan acara tersebut. Dalam tipe ini salah satunya adalah Ibu saya. Ada juga yang beranggapan bahwa dekorasi adalah hal utama, karena kesan dan ‘ambience’ yang tercipta selama acara itulah yang akan paling dikenang para tamu. Macam-macam sih ya… Kalau saya pribadi sih, tidak lain tidak bukan, fokus saya adalah pada Fotografi.

That’s why, butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk memutuskan vendor mana yang akan dipilih. Waktu dan juga tissue yang banyak saking frustasi. Tidak terhitung rasanya berapa jam yang saya habiskan untuk browsing cari informasi vendor, lihat portofolio mereka dan baca banyaaakkk sekali review di forum ini dan itu (like.. hundred times!). Belum lagi bolak balik buka majalah (baik milik sendiri, minjam punya orang atau nebeng ngintip di loper koran 😉 ) untuk menghayati setiap style mereka.

Continue reading

Jepret..jepret..jeprett!

14 Oct

lanjutan dari cerita ini

Setelah ngubungin dan nanya-nanya harga liputan Aldi (thanks to bbm), kita janjian ketemuan buat briefing hari Kamis, 2 hari sebelum acara lamaran dan pas si Kk datang dari Makassar. Dasar sayanya (dan di kk juga sih…)  concern banget masalah perdokumentasian ini, Aldi di-brief sedetail-detailnya, sampe dia pusing sendiri. hehehe. Untung Aldi itu teman lama, kalo nggak.. pasti jadinya males banget ngadepin saya yang ribet ini ( ^^)V

Di hari H, Aldi datang tepat waktu, sesuai dengan permintaan saya, yaitu jam setengah 5 sore, sebelum saya didandanin. Oh iya, kata Aldi sih, saya satu-satunya client dia yang minta difoto pada waktu make-up. Yukss..! Saya puas banget dengan cara kerja Aldi yang profesional, mudah diatur, ngikutin keinginan client dan… murmer cyinnn.. Dijamin kaget kalo saya sebutin berapa. Apalagi kalau liat hasilnya. Cuma, karena Aldi cuma berdua dengan videografernya, ada beberapa liputan yang nggak bisa di-capture, yaitu tamu-tamu papa mama yang sejembreng umat itu. Tapi nggak apa-apa, karena sesuai dengan brief saya  ke Aldi, dahulukan candid. Liputannya kalau nggak bisa kejepret, nggak apa-apa. Pake skala prioritas deh, siapa yang paling penting buat disorot? Ya tentu saja saya dan si kk doongg.. haha!

Ini nih beberapa contoh hasil jepretan Aldi:

Continue reading

Berburu Fotografer

14 Oct

Menurut saya, unsur yang paling penting dalam acara pernikahan adalah dokumentasi. Karena setelah acara usai, makanan habis, dekorasi dibongkar, make-up dihapus, baju dilepas.. (ganti dengan baju lain dong.. :p ) yang tersisa adalah foto-foto dan video acara tsb. Ini adalah satu-satunya yang kekal kita simpan sampai nanti. Karenanya, waktu acara lamaran kemaren, saya cukup uring-uringan nyari fotografer yang bisa meng-capture momen istimewa tersebut.

Bukan apa-apa, nyari fotografer di Kendari yang bisa motret sesuai selera tuh susah ya bow. Ya, nggak perlu secanggih the uppermost atau yang jam terbangnya tinggi macam timur angin atau jacky suharto. Cukup yang bisa menghasilkan gambar yang decent. Sebenarnya bukannya nggak ada sama sekali, cuma saya agak trauma sih. Dulu pernah foto keluarga di studio foto yang katanya paling baguslah di kota itu. Fotografernya sih bisa foto, cuma pas jadi (saya ngambil semua file mentah, which is hal yang baru buat mereka, sebelumnya belum pernah ada client yang seperti itu), dia banyakan editnya karena ngambilnya nggak proporsional. Udah gitu, dari puluhan foto yang dihasilkan, 90% saya yang jadi pengarah gayanya. Dia cuma nunggu aja, sampe kita siap, baru dia jepret. Ada 1 foto yang diarahin ama dia, hasilnya… IMHO, paling jelek nggak sesuai harapan di antara semua 😦

Continue reading

Dream Wedding Party (Yang nggak kesampean)

1 Sep

Dulu, duluu sekali. Saya bercita-cita pengen punya pesta pernikahan yang:

  1. Dihadiri oleh keluarga dan teman terdekat (Max. 50 orang)
  2. Outdoor
  3. Berkonsep ‘Garden Party’
  4. Palette color konsisten
  5. Pagi hari
  6. Breakfast (Nggak pake menu ‘berat2’)
  7. Outfit:  dress nggak nyampe semata kaki
  8. Make-up natural
  9. Nggak pake prosesi adat

Kurang lebih seperti yang di-capture oleh Sarah Bussey berikut ini:

Continue reading

Say Cheese…!

18 Aug

Persiapan kebutuhan perkawinan itu ngerepotin. Itu pasti. Buat lokasinya jauh dari domisili capeng saat ini, maka keribetannya pun menjadi berkali-kali lipat. Gimana cara behubungan dan koordinasi dengan vendor coba? Eits! sebentar… sebelumnya, pilih dulu vendornya yang mana. Yang domisili di sana atau di sini?

Kendari, kota kelahiran yang saya cintai itu, sudah ditetapkan menjadi tempat pelaksanaan acara lamaran, akad nikah dan resepsi pertama. Sayangnya, kecuali catering, belum begitu banyak vendor perkawinan di sana. Setidaknya, yang bisa memenuhi impian saya. Yah, bisa dibayanginlah kira-kira kota kecil, di pelosok timur Indonesia seperti apa perkembangannya (bukan meremehkan, tapi begitulah fakta yang ada 😦 ). Sebenernya, saya sudah menghapus impian masa kecil saya mengenai Wedding garden party yang kecil, yang hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat dan resepsinya hanya berupa breakfast atau brunch sama-sama. Tapi ada satu hal yang sulit buat saya hapus; saya ingin ada kenang-kenangan pesta perkawinan yang ‘bercerita dalam’ melalui gambar diam atau bergerak. Ya! nggak apa-apa deh yang lainnya yang sesuai dengan harapan. Asalkan nantinya, punya album foto dan rekaman video yang menyentuh.

Continue reading